Senin, 06 Januari 2014

A.                Artikel

1. IHSG kembali dibuka melemah mengikuti bursa Asia

Jakarta (ANTARA News) - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa kembali dibuka melemah mengikuti bursa saham di kawasan Asia.

IHSG BEI dibuka turun 21,30 poin atau 0,52 persen ke posisi 4.099,37. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 10,45 poin (1,54 persen) ke level 667,44.

"IHSG BEI kembali melemah seiring dengan tekanan yang terjadi di pasar uang domestik dan juga bursa di kawasan Asia," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung di Jakarta, Selasa.

Ia mengemukakan pelemahan bursa di kawasan Asia itu salah satunya didorong oleh konflik di negara Suriah. Memanasnya konflik di Suriah itu juga mengakibatkan harga minyak menguat 0,5 persen pagi ini.

Meski demikian, ia menambahkan saham-saham berbasis komoditas tampaknya dapat menjadi penahan pelemahan indeks BEI, diperkirakan saham sektor itu dapat kembali menguat pada hari ini akibat pelemahan kurs rupiah.

Analis PT aMcapital Securities, Viviet S Putri mengatakan saham-saham sektor pertanian seperti minyak sawit mentah (CPO) cenderung bergerak positif seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan pajak kepada industri yang berorientasi ekspor.

"Secara teknikal, tren penurunan (bearish) pada sektor konstruksi dan properti muncul, bersamaan dengan itu muncul tren penguatan (bullish) di sektor CPO, hal itu menjadi tanda awal rotasi sektor," ujar dia.

Meski demikian, Viviet menyarankan kepada pelaku pasar untuk tetap waspada, dikarenakan pergerakan saham-saham di bursa dalam negeri masih memiliki volatilitas yang tinggi.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng melemah 84,53 poin (0,38 persen) ke level 21.920,79, indeks Nikkei-225 turun 42,65 poin (0,31 persen) ke level 13.593,86, dan Straits Times melemah 9,27 poin (0,32 persen) ke posisi 3.074,46.

2. Ini Penyebab Rontoknya IHSG dan Depresiasi Rupiah

Bisnis.com, Senin, 19 Agustus 2013,  JAKARTA – Menteri Keuangan M. Chatib Basri menyampaikan rontoknya indeks harga saham gabungan dan depresiasi rupiah awal pekan ini terjadi karena sentimen negatif atas rencana penutupan Merrill Lynch dan pelebaran defisit transaksi berjalan dari dalam negeri.
Kombinasi faktor eksternal dan internal itu membuat IHSG ditutup anjlok 5,58% ke level 4.313,52 pada perdagangan Senin (19/8). Pelemahan sejalan dengan pergerakan bursa regional yang memerah, tetapi IHSG paling terpuruk.
Hang Seng melemah 0,24%, bursa Korea melemah 0,13%, bursa Singapura melemah 0,76%, sedangkan Nikkei 225 menguat 0,79%.
Sementara itu, rupiah terdepresiasi 0,99% menuju Rp10.533 per dolar AS atau terendah dalam 4 tahun terakhir.
Mata uang Asia cenderung tertekan oleh dolar AS. Yen ditransaksikan di kisaran 97,94 per dolar AS, dolar Hong Kong 7,7545 per dolar AS, dolar Singapura 1,2740 per dolar AS, dan yuan 6,1227 per dolar AS.
“Merril Lynch mau ditutup oleh Bank of America. Itu yang kemudian menimbulkan kekhawatiran. Itu dari sisi eksternal yang kemudian men-drive stock market, capital market, kemudian nilai tukar jatuh,” katanya, Senin (19/8/2013).
Dari sisi internal, perkembangan defisit transaksi berjalan yang melebar pada kuartal II/2013 menjadi US$9,8 miliar atau setara 4,4% dari produk domestik bruto (PDB) semakin menekan rupiah.
Namun, Chatib menegaskan kekhawatiran pasar tidak perlu berlanjut karena ada harapan defisit transaksi berjalan akan menyempit pada kuartal III/2013 karena impor minyak menyusut seiring dampak kenaikan harga BBM bersubsidi mulai 22 Juni.
“Sampai dengan Juli, konsumsi BBM di bawah biasanya. Kenapa di bawah yang biasanya, karena BBM dinaikkan. Kenapa di kuartal II/2013 angka defisit masih cukup tinggi, karena BBM baru naik 22 Juni, jadi belum bisa cover adjustment yang terjadi,” jelasnya.
Kendati demikian, Chatib belum bersedia membeberkan respons kebijakan yang akan diambil menyusul pelemahan indeks dan rupiah. Pihaknya masih menunggu hasil pertemuan Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) yang digelar Senin (19/8) malam.
Hingga pukul 21.00, rapat FKSSK yang dimulai pukul 19.00 masih berlangsung. Dalam rapat pembahasan kondisi terkini pasar saham, pasar uang dan pasar utang itu, hadir Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Wardijo, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida, dan Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang P.S. Brodjonegoro.
Chatib hanya mengemukakan respons perlu dilakukan dari sisi reformasi struktural dengan perbaikan regulasi investasi agar transaksi berjalan membaik. Pihaknya telah meminta agar revisi daftar negatif investasi (DNI) dan simplifikasi peraturan dipercepat. Selain itu, perbaikan sistem logistik nasional terus dilakukan untuk memperbaiki ekspor barang.  

5. Sudah Jenuh Beli, IHSG Akan Melemah

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin harus rela finish dengan kehilangan 4 poin. Kurangnya sentimen positif dari dalam dan luar membuat bursa sedikit stagnan.

Menutup perdagangan, Selasa (17/9/2013), IHSG ditutup di level 4.517,620 atau minus 4,6 poin (0,10%). Sementara indeks LQ45 ditutup di posisi 765,64 atau turun 1,1 poin.

Semalam Wall Street melaju setelah adanya harapan The Federal Reserve tidak akan mencabut stimulus tapi hanya mengurangi sedikit nilainya sedikit saja. Stimulus ini sudah menjadi katalis penggerak pasar finansial Amerika Serikat (AS) selama ini.

Pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat, Indeks Dow Jones menguat 34,95 poin (0,23%) ke level 15.529,73, Indeks S&P 500 bertambah 7,16 poin (0,42%) ke level 1.704,76 dan Indeks Komposit Nasdaq menanjak 27,853 poin (0,75%) ke level 3.745,699.

Hari ini IHSG diperkirakan akan masih akan melemah atas posisinya yang sudah jenuh beli. Pelaku pasar masih akan lakukan aksi ambil untung.

Pergerakan bursa-bursa regional pagi hari ini:
  • Indeks Nikkei 225 melonjak 187,78 poin (1,31%) ke level 14.499,45.  
  • Indeks Straits Times naik tipis 1,44 poin (0,05%) ke level 3.180,92.  

Rekomendasi untuk perdagangan saham hari ini:
Panin Sekuritas
IHSG kemarin mengalami profit taking setelah dalam beberapa hari perdagangan mengalami kenaikan signifikan. Kami melihat aksi ambil untung ini merupakan fenomena yang biasa terjadi setelah indeks mengalami rally jangka pendek. Kami melihat beberapa berita positif masih akan menjadi katalis indeks seperti terus meredanya ketegangan di Suriah terkait senjata kimia, mundurnya Lawrence Summers dari kandidat Chairman the Fed yang baru menggantikan Bernanke, serta keyakinan pasar bahwa dampak pemotongan stimulus yang rencananya akan dilakukan The Fed pekan ini tidak akan terlalu signifikan dan sudah diantisipasi pasar. Hari ini kami proyeksikan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Kisaran support-resistance 4.490-4.540.
Jakarta - KDB Daewoo Securities
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun -4.62 poin (-0.10%) ke 4,517.62 dengan jumlah transaksi sebanyak 11.8 juta lot atau setara dengan Rp 6.3 triliun.

Pergerakan sektor-sektor IHSG a.l sektor agricultural (+0.75%), sektor basic-industries (+0.64%), sektor construction and property (-1.38%), sektor consumer goods (-0.75%), sektor finance (+0.01%), sektor infrastructure (+0.68%), sektor mining (+1.51%), sektor misc-industries (-1.25%), dan sektor trade (-0.43%).

Tercatat sebanyak 107 saham mengalami penguatan, 138 saham mengalami penurunan, 105 saham tidak mengalami perubahan dan 134 saham tidak diperdagangkan sama sekali.

Saham-saham yang menempati top gainers a.l. TLKM (+1.12%), EXCL (+5.06%), LPKR (+6.19%), TPIA (+8.89%), dan BBCA (+0.50%). Sementara itu, saham-saham yang menempati top losers a.l. ASII (-2.17%), UNVR (-2.02%), KLBF (-2.19%), PWON (-9.84%), dan BBRI (-0.61%).

Asing tercatat melakukan net buy di pasar reguler sebesar Rp 127 miliar dengan saham yang paling banyak dibeli a.l. BMRI, BBRI, BBCA, LPKR, dan TLKM. Mata uang rupiah terapresiasi 11.182 per dolar AS.

Secara teknikal penurunan IHSG hari ini, merupakan koreksi sehat setelah kemarin mengalami kenaikan yang cukup signifikan, sinyal MACD death cross dan stochastic memasuki area oversold, namun disertai volume yang kecil juga, ihsg masih berada di atas MA 20 dan MA 60, sehingga terlihat bahwa peluang konsolidasi kembali akan terjadi pada hari ini. Dengan support 4.177 dan resistance 4.544. Adapun saham-saham yang dapat diperhatikan adalah: ARNA, BWPT, INDY.
4. Menteri Keuangan M. Chatib Basri menyampaikan rontoknya indeks harga saham gabungan dan depresiasi rupiah awal pekan ini terjadi karena sentimen negatif atas rencana penutupan Merrill Lynch, dan pelebaran defisit transaksi berjalan dari dalam negeri. Kombinasi faktor eksternal dan internal itu membuat IHSG ditutup anjlok 5,58% ke level 4.313,52 pada perdagangan Senin (19/8). Beliau mengatakan “Merril Lynch mau ditutup oleh Bank of America. Itu yang kemudian menimbulkan kekhawatiran. Itu dari sisi eksternal yang kemudian men-drive stock market, capital market, kemudian nilai tukar jatuh,”
Dari sisi internal, perkembangan defisit transaksi berjalan yang melebar pada kuartal II/2013 menjadi US$9,8 miliar atau setara 4,4% dari produk domestik bruto (PDB) semakin menekan rupiah. Namun, Chatib menegaskan kekhawatiran pasar tidak perlu berlanjut karena ada harapan defisit transaksi berjalan akan menyempit pada kuartal III/2013 karena impor minyak menyusut seiring dampak kenaikan harga BBM bersubsidi
Pada tanggal 27 agustus Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dibuka melemah mengikuti bursa saham di kawasan Asia. Pelemahan bursa di kawasan Asia itu salah satunya didorong oleh konflik di negara Suriah. Memanasnya konflik di Suriah itu juga mengakibatkan harga minyak menguat 0,5 persen. Meski demikian, saham-saham berbasis komoditas dapat menjadi penahan pelemahan indeks BEI, diperkirakan saham sektor itu dapat kembali menguat pada hari ini akibat pelemahan kurs rupiah. Sahan-saham sektor pertanian seperti minyak sawit mentah (CPO) cenderung bergerak positif seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan pajak kepada industri yang berorientasi ekspor.
Tanggal 17 September Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 4.517,620 atau minus 4,6 poin (0,10%). Kurangnya sentimen positif dari dalam dan luar membuat bursa sedikit stagnan.
Wall Street melaju setelah adanya harapan The Federal Reserve tidak akan mencabut stimulus tapi hanya mengurangi nilainya sedikit saja. Stimulus ini sudah menjadi katalis penggerak pasar finansial Amerika Serikat (AS) selama ini.
IHSG kemarin mengalami profit taking setelah dalam beberapa hari perdagangan mengalami kenaikan signifikan. Kami melihat aksi ambil untung ini merupakan fenomena yang biasa terjadi setelah indeks mengalami rally jangka pendek. Kami melihat beberapa berita positif masih akan menjadi katalis indeks seperti terus meredanya ketegangan di Suriah terkait senjata kimia, serta keyakinan pasar bahwa dampak pemotongan stimulus yang rencananya akan dilakukan The Fed pekan ini tidak akan terlalu signifikan dan sudah diantisipasi pasar. 

5. BEI: Pasar modal Indonesia kembali stabil

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito mengatakan pasar modal Indonesia sudah mulai stabil. Itu diperlihatkan oleh penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini.
"Indeks akhir ini sudah kembali ke masa sebelum krisis. Artinya kestabilan pasar modal kita sudah mulai berjalan," ujarnya, di Jakarta, Senin (16/9).
Menurut Ito, kestabilan itu timbul berkat kebijakan pemerintah yang mendorong aliran modal asing masuk. Namun, diakuinya, masih terdapat sentimen negatif yang bisa mendorong pasar modal Indonesia kembali terjerembab.
"Pengaruh negatifnya turun masih ada tapi kan sekarang IHSG sudah naik 4.400. Harapannya kebijakan pemerintah akan terus mendorong stabilitas pasar modal," jelas dia.
Senada, Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku senang melihat pasar keuangan Indonesia kembali menguat. Berdasarkan pantauannya di twitter, IHSG siang ini menguat di level 4.400.
"Apalagi asosiasi efek indonesia menargetkan indeks 4.600. Artinya market bereaksi kan padahal dua minggu lalu tidak berbicara apa-apa," ungkapnya.
Pada sesi 1 perdagangan siang ini, IHSG naik 72,95 poin atau 1,67 persen ke level 4.448 dengan jumlah transaksi sebanyak 6,6 juta lot atau setara dengan Rp 3,4 triliun.

6. Pasar Modal Indonesia Sensitif Isu Global

TEMPO.CO, Jakarta -Direktur Utama PT Danareksa Sekuritas, Marciano Herman mengatakan  pasar modal Indonesia sangat sensitif terhadap kondisi global."Di samping masalah subsidi BBM, kejadian di luar negeri kita sangat sensitif. Hal itu terbukti dengan aktifitas negatif di luar negeri market kita jadi rusak,"katanya dalam jumpa pers CEO Day 2013 di hotel Four Seasons, Senin 9 September 2013.

Untuk mengantiisipasi hal itu, ia melanjutkan, partisipasi investor domestik harus terus dikembangkan. Dengan begitu, pasar modal tidak akan bergantung pada asing."Investor ritel domestik kita masih sedikit, harus dikembangkan juga untuk memperkuat pasar modal."ujarnya.

Direktur Retail Danareksa Sujadi mengatakan  jumlah investor domestik Indonesia baru berjumlah 360.000. Minimnya jumlah investor domestik tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan mengenai pasar modal.

Ia melanjutkan, untuk meningkatkan hal tersebut Danareksa kerap mengadakan edukasi terhadap investor lokal."Kita tekankan investasi di pasar modal itu ladang untuk kembangkan asetnya sehingga ke depan kita tidak lagi bergantung ke asing,"katanya.

Untuk akhir tahun, Danareksa Sekuritas membidik pergerakan IHSG di level 4,600. Sentimen yang masih ditunggu antara lain keputusan kebijakan pengurangan stimulus moneter oleh The Federal Reserve."Untuk lokal yayng dilihat sejauh mana kebijakan pemerintah terutama di financial deepening dan perbaikan di sektor riiil,"kata Marciano.
7. Inilah Momen Penting Perkembangan Pasar Modal
INILAH.COM, Jakarta - Otoritas pasar modal memperingati 36 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia pada Kamis (15/8/2013).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad menuturkan, ada tiga momen penting dalam perkembangan keberadaan pasar modal di Indonesia. Pertama, era deregulasi tahun 1987-1990. Dengan ada kebijakan itu, jumlah emiten yang tadi hanya sebanyak 25 emiten meningkat menjadi 145 emiten.

Selain itu, Undang-undang pasar modal yang diterbitkan tahun 1995 memberi kerangka hukum pembinaan bagi pasar modal dan menjadikannya sebagai regulator kuat. Menurut Muliaman, upaya keras tidak hanya menggabungkan fungsi regulator, namun mengefektifkan fungsi penawaran agar menjadi industri keuangan yang bermanfaat. "Pasar modal menjadi sumber pendanaan yang mudah diakses dan ranah investasi yang aman," kata Muliaman dalam sambutan peringatan diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia di kantor OJK, pada Kamis (15/8/2013).

Ketiga, beralihnya pengawasan modal dan lembaga keuangan non bank ke tangan OJK. Menurut Muliaman, hal itu juga merupakan tahapan penting karena pengawasan keuangan kini dilakukan sepenuhnya oleh OJK. Upaya mendorong pendalaman pasar modal yang dilakukan OJK, adalah dengan mensinergikan antara keberadaan pasar modal, perbankan dan Industri Keuangan Non Bank baik konvensional maupun syariah. Sebab, tiga lembaga tadi saling terkait dan tak bisa dipisahkan.

Ini, memang penting apalagi jika dikaitkan dengan ASEAN Economic Community (AEC). Indonesia pun, harus mempersiapkan diri agar pasar modalnya menarik, kompetitif dan memiliki daya tahan. Tak lupa, penyederhanaan peraturan harus dilakukan agar minat investor makin mengemuka.

Selain itu, Muliaman menjelaskan, pasar modal Indonesia sebenarnya sudah ada jauh sebelum 36 tahun lalu. Pada 1912, pemerintah Belanda membuka Bursa Efek di Jakarta yang ketika itu bernama Batavia. Keberadaannya berkembang cukup baik namun akibat pecahnya Perang Dunia II ditutup.

Pasca kemerdekaan didapat dan membentuk Republik Indonesia dengan pemerintahan mandiri, pada tahun 1952 Pemerintah RI kembali membuka Bursa Efek tadi. Namun karena adanya larangan memperdagangkan saham milik perusahaan Belanda dan tingginya inflasi di tahun 1960-an, perkembangan pasar modal pun meredup dan tutup.

Pemerintahan berganti dari Orde Lama ke Orde Baru. Lalu tepat pada 10 Agustus 1977, Presiden Soeharto kembali menghidupkan pasar modal. Dan, tanggal tersebut pun dipakai sebagai titik awal munculnya bursa efek di Indonesia.

B.       Kesimpulan:      
Saham merupakan tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang isinya menerangkan tentang  siapa pemilik saham. Sedangkan harga saham adalah harga pasarnya. Maksud dari pengertian tersebut adalah harga pasar saham lebih sering dipakai dalam berbagai penelitian pasar modal, karena harga pasar saham yang paling dipentingkan oleh investor. Harga pasar saham mencerminkan nilai suatu perusahaan tersebut dan sebaliknya.  Oleh karena itu setiap perusahaan yang menerbitkan saham sangat memperhatikan harga pasar sahamnya.
Berikut merupakan faktor faktor yang mempengaruhi harga saham :
1. Laba per lembar saham (Earning Per Share/EPS)
Seorang investor yang melakukan investasi pada perusahaan akan menerima laba atas saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar saham (EPS) yang diberikan perusahaan akan memberikan pengembalian yang cukup baik. Ini akan mendorong investor untuk melakukan investasi yang lebih besar lagi sehingga harga saham perusahaan akan meningkat.
2. Tingkat Bunga                                                                                                                        
Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham dengan cara :
a. Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dengan obligasi, apabila suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya untuk ditukarkan dengan obligasi. Hal ini akan  menurunkan harga saham. Hal sebaliknya juga akan terjadi apabila tingkat bunga mengalami penurunan.
b. Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah biaya, semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan. Suku bunga juga mempengaruhi kegiatan ekonomi yang juga akan mempengaruhi laba perusahaan.
3. Jumlah Kas Deviden yang Diberikan
Kebijakan pembagian deviden dapt dibagi menjadi dua, yaitu sebagian dibagikan dalam bentuk deviden dan sebagian lagi disisihkan sebagai laba ditahan. Sebagai salah satu factor yang mempengaruhi harga saham, maka peningkatan pembagian deviden merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan dari pemegang saham karena jumlah kas deviden yang besar adalah yang diinginkan oleh investor sehingga harga saham naik.
4. Jumlah laba yang didapat perusahaan
Pada umumnya, investor melakukan investasi pada perusahaan yang mempunyai profit yang cukup baik karena menunjukan prospek yang cerah sehingga investor tertarik untuk berinvestasi, yang nantinya akan mempengaruhi harga saham perusahaan.
5. Tingkat Resiko dan Pengembalian

Apabila tingkat resiko dan proyeksi laba yang diharapkan perusahaan meningkat maka akan mempengaruhi harga saham perusahaan. Biasanya semakin tinggi resiko maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian saham yang diterima.
(Deron Wagner)

Tutorial ini awalnya berjudul membuat trading di berbagai sektor yang kekuatannya relatif besar dan tercatat pada online trading expo.

PENGANTAR
-Belajar bagaimana trading di pasar yang berbagai sektor
-Berdasarkan relatifitas pada kekuatan atau kelemahan
-Meningkatkan peluang trading harian
-Meminimalkan resiko
-Memaksimalkan  keuntungan

TRADING UNTUK SEKTOR FUNDAMENTAL ATAU JANGKA PANJANG
-Mengikuti alur keuangan institusional
-Merotasi ke sektor yang kuat (Buy)
-Merotasi dari sektor lemah (sell short)
-Mempelajari hubungan timbal balik




> SEKTOR PERDAGANGAN
> SEBUAH CONTOH BEBERAPA TIPIKAL SEKTOR PERPUTARAN
SEKTOR KELUAR
-Sektor Teknologi
- Sektor Minyak
- Sektor Pasar yang Lebih Luas

SEKTOR KEDALAM
- Sektor Farmasi
- Sektor Transportasi
- Sektor Emas (logam) atau lainnya
Jelas, kebalikan dari suatu hubungan ini juga berlaku

SAHAM-SAHAM SEKTOR TRACKING ATAU INDEKS (PEMEGANG)
·         QQQ (NASDAQ 100)
·         SPY (SPYDER/S&P 500)
·         DIA (DIAMONDS/DJIA)
·         BBH (BIOTECH)
·         PPH (DRUGS)
·         SMH (SEMIS)
·         SWH (SOFTWARE)
·         TTH (TELECOM)
·         WMH (WIRELESS)
·         HHH (INTERNETS)
·         OIH (OIL SERVICE)

EMPAT KUNCI UNTUK SEKTOR TRADING
-Selalu trading dengan mengikuti trend pasar.
-Sektor trading menunjukkan kekuatan atau kelemahan yang relatif ke pasar.
-Memimpin trading, bukan secara lamban.
-Ingat bahwa volume yang berbicara atau volume perlu dicermati pergerakannya.





RINGKASAN STRATEGI DALAM TRADING
- Menentukan trend pasar
Trend adalah hal yamg paling dicari dan diburu oleh para trader . barang siapa yang bisa menemukannya ,dialah yang paling banyak menghasilkan profit.
- Mencari sektor dengan mengetahui relatifitas kekuatan dan kelemahan
- Memimpin trading yang tinggi-volumenya di setiap sektor
Segala sesuatu dalam trading adalah seperti alat yang ditambahkan ke toolbox trader Anda. alat Anda akan memberi Anda kesempatan yang lebih baik untuk membuat keputusan dalam perdagangan yang baik bila Anda menggunakan alat yang tepat pada waktu yang tepat.
Bollinger Bands.
  • Digunakan untuk mengukur volatilitas pasar.
  • Mereka bertindak seperti tingkat support dan resistance.
MACD
  • Digunakan untuk menangkap tren awal dan juga dapat membantu kita kapan  pembalikan tren terjadi.
  • inidikator Ini terdiri dari 2 moving average (1 cepat, 1 lambat) dan garis vertikal yang disebut histogram, yang mengukur jarak antara 2 moving average. Kemudian salah satu cara untuk menggunakan MACD adalah menunggu untuk moving average cepat untuk “menyeberang” atau “silang” dengan moving average lambat.
Parabolic SAR
  • Indikator ini dibuat untuk mengetahui pembalikan tren, maka dinamakan  Stop And Reverse.
  • Ini adalah indikator paling mudah untuk ditafsirkan karena hanya memberikan sinyal bullish dan bearish.
  • Ketika titik-titik berada di atas candle, itu adalah sinyal jual. Sedangkan Ketika titik-titik berada di bawah candle, itu adalah sinyal beli.
  • Indikator ini paling baik digunakan dalam tren pasar yang terdiri dari rally atau terjun yang panjang.
Stochastic
  • Digunakan untuk menunjukkan kondisi overbought dan oversold.
  • Ketika garis moving average di atas 80, itu berarti bahwa pasar overbought dan kita bisa menentukan kapan untuk menjual. Sedangkan Ketika garis moving average adalah di bawah 20, itu berarti bahwa pasar oversold dan kita bisa menentukan kapan untuk membeli.
Relative Strength Index (RSI)
  • Serupa dengan stokastik dalam hal ini menunjukkan kondisi overbought dan oversold.
  • Ketika RSI berada di atas 70, itu berarti bahwa pasar overbought dan kita siap untuk menjual. Sedangkan Ketika RSI di bawah 30, itu berarti bahwa pasar oversold dan kita siap untuk beli.
  • RSI juga dapat digunakan untuk mengkonfirmasi formasi tren. Jika Anda berpikir tren sudah terbentuk, menunggu RSI untuk naik di atas atau turun di bawah 50 (tergantung pada jika Anda melihat sebuah uptrend atau downtrend) sebelum Anda memasukkan perdagangan.
Jadi, Setiap indikator memiliki kekurangannya. Inilah sebabnya mengapa trader menggabungkan indikator yang berbeda untuk “melengkapi” satu sama lain.












-          Return on Equity (ROE)
Tahun
ROE
2011
22.6%
2012
15.1%
ROE mengukur profitabilitas perusahaan dengan mengungkapkan seberapa besar sebuah perusahaan menghasilkan laba dengan dana pemegang saham yang telah diinvestasikan ke perusahaan. Hasil perhitungan ROE dari laporan keuangan 2011-2009 menunjukkan 22.6% (2011), 15.1% (2012). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, ROE mengalami penurunan, karena telah terjadi penurunan laba bersih dan perusahaan yang bersangkutan. Selanjutnya penurunan tersebut akan menyebabkan penurunan harga saham., karena telah terjadi penurunan laba bersih dan perusahaan yang bersangkutan. Selanjutnya, penurunan tersebut akan menyebabkan penurunanharga saham perusahaan.
-          Return on Asset (ROA)
Tahun
ROA
2011
9.7%
2012
5.8%
Mengukur bagaimana efisiensi dalam pengelolaan asset-asetnya untuk menghasilkan pendapatan. Semakin tinggi ROA, semakin baik karena berarti perusahaan menghasilkan lebih banyak. Hasil perhitungan ROA dari laporan keuangan 2011-2012 menunjukkan 9.7% (2011), 5.8% (2012). Berdasarkan perhitungan tersebut, ROA menunjukkan mengalami penurunan, dikarenakan efektivitas perusahaan untuk mendapatkan laba dengan semua asset yang dimiliki tidak efektif. dikarenakan kondisi perusahaan perode tersebut memburuk yang berarti nilai laba bersih yang dihasilkan dari seluruh asset berkurang.




-          Earnings Per Share
Tahun
EPS
2011
156.1
2012
116.5
Menandakan jumlah laba ditahan yang dimiliki perusahaan tersebut. Semakin besar nilainya, maka semakin bagus keuangan perusahaan. Hasil perhitungan dari laporan keuangan tahun 2011-2012, adalah 156.1 (2011) dan 116.5 (2012). Berdasarkan perhitungan tersebut nilai EPS mengalami penurunan dari tahun 2011-2012. Sehingga, perusahaan mengalami kerugian dan menunjukkan hasil yang negatif.
Nillai EPS yang semakin tinggi merupakan dambaan investor karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham,

-          Debt to Equity Ratio
Tahun
DER
2011
0.5
2012
0.1
Untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menutup sebagian atau seluruh hutang-hutangnya dengan dana yang berasal dari modal sendiri.. Semakin rendah angka rasio ini menunjukkan perusahaan semakin baik. Hasil perhitungan debt to equity ratio dari laporan keuangan tahun 2011-2012menunjukkan 50% (2011), 10% (2012). Berdasarkan perhitungan tersebut, kondisi perusahaan mengalami kenaikan, karena penurunan jumlah modal perusahaan lebih besar jumlahnya daripada peningkatan total aktiva perusahaan tersebut. Sehingga ada dana yang cukup untuk menutup hutang-hutang perusahaan dari modal sendiri.



-          Price to Book Value (PBV)
Tahun
PBV
2011
2.6X
2012
2.1X


PBV ini pada dasarnya sama saja dengan PER. Perbedaannya, kalau PER berfokus pada laba bersih yang dihasilkan perusahaan, PBV fokusnya pada nilai ekuitas perusahaan. PBV sesuai artinya bermakna ‘harga saham dibandingkan nilai ekuitas per saham’. Cara menghitungnya, adalah dengan membagi harga saham dengan Book Value-nya (BV), dimana BV dihasilkan dari ekuitas dibagi rata-rata jumlah saham yang beredar. Konsep penggunaannya pun sama dengan PER: semakin tinggi nilai PBV, maka semakin mahal harga sahamnya.

Dan berdasarkan pengalaman, prediksi perubahan harga saham dengan menggunakan PER memang sedikit lebih akurat dibanding jika dengan menggunakan PBV. Sebab, nilai laba bersih lebih mencerminkan kinerja yang sesungguhnya dari sebuah perusahaan dibanding nilai ekuitas. Peningkatan ekuitas bisa saja diperoleh dari tambahan modal disetor, right issue, atau apapun yang intinya bukan berasal dari kinerja perusahaan. Sedangkan laba bersih, hampir pasti merupakan hasil dari kinerja perusahaan.

Hanya saja, laba bersih dari sebuah perusahaan bisa saja bukan berasal dari kinerjanya secara operasional, melainkan hasil dari pendapatan non operasional, penjualan aset, dan lain-lain, sehingga bisa saja laba bersih itu tidak menunjukkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Itu sebabnya untuk menjadi seorang analis dan penilai harga saham yang baik, anda harus punya ketelitian yang luar biasa.
PBV 2011 (2.6X ) dan 2012 (2.1X) nilai buku saham saham lebih dari 2X PBV, dapat disimpulkan bahwa harga lembar persaham nya tergolong lebih murah.
Jadi, PBV menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan, semakin tinggi angka ini, berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut.
-          PER
Tahun
PBV
2011
11.3 X
2012
13.6 X

PER atau price to earning ratio adalah suatu rasio perbandingan antara harga saham dengan laba per saham. Atau sama dengan kapitalisasi dibagi dengan laba. Pasar menghargai 11.3 X (2011) dan 13.6 X (2012) atas kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Bagi pemodal, semakin kecil PER suatu saham, semakin bagus karena saham tersebut termasuk murah. Jadi, PER mengalami penurunan, sehingga pada tahun 2011 bisa dikatakan lebih murah dari pada tahun 2012.

Saran dan kritik yang membangun dipersilahkan :)

Rabu, 01 Mei 2013

Confessions of An Economic Hitman Cover.jpg
Intisari
  
Confessions of an Economic Hit Man adalah buku yang ditulis oleh John Perkins dan diterbitkan pada tahun 2004. Buku ini berisi catatan Perkins mengenai karirnya sebagai "perusak ekonomi" (economic hitman).
Menurutnya, ia telah menulis buku ini sejak tahun 1980-an, tetapi "ancaman atau suapan seringkali membuatku berhenti."

Menurut bukunya, tugas Perkins adalah meyakinkan pemimpin politik dan finansial negara berkembang untuk berutang besar dengan institusi seperti Bank Dunia dan USAID. Setelah tidak bisa membayar, negara tersebut dipaksa tunduk terhadap tekanan politik dari Amerika Serikat mengenai berbagai masalah. Perkins menyatakan bahwa negara-negara berkembang dinetralkan secara politik, lalu jurang antara orang kaya dengan miskin diperlebar, dan ekonomi negara-negara tersebut dirusak untuk jangka panjang.

Isi Buku
Penulis John Perkins
Penerbit Berrett-Koehler Publishers
Tanggal terbit 2004
Halaman 250p
ISBN 0-452-28708-1
Inilah "pengakuan dosa" dan kesaksian seorang ekonom bayaran Amerika Serikat yang ditugasi untuk menciptakan ketergantungan ekonomi negara dunia ketiga dan terbelakang (less-developed countries) melalui politik utang kepada negara adikuasa. Membaca buku karya John Perkins--salah seorang economic hit man--ini seperti membaca novel thriller: memukau, provokatif, dan penuh dengan ketegangan batin sang penulis.

Pengalaman pribadinya sebagai ekonom perusak disajikan secara blak-blakan dan terus terang dalam buku ini. Ia menceritakan bagaimana profil seorang agen terselubung hasil rekrutmen National Security Agency (NSA), organisasi spionase Amerika yang paling sedikit diketahui tapi terbesar. Dia telah berkelana ke berbagai pelosok dunia, seperti Indonesia, Panama, Ekuador, Kolombia, Arab Saudi, Iran, dan negeri strategis lainnya.

Tugas utama Perkins sebagai economic hit man (EHM) adalah menerapkan kebijakan yang mempromosikan kepentingan corporatocracy (koalisi bisnis dan politik antara pemerintah, perbankan, dan korporasi) Amerika sambil menyatakan minat mereka untuk mengurangi derajat kemiskinan di negara dunia ketiga yang kaya akan sumber daya alamnya.

Perkins dan teman-temannya berperan sebagai agen spionase terselubung. Mereka membuat economics forecast untuk suatu negara klien corporatocracy (seperti telah dilakukan di Indonesia dalam proyek elektrifikasi Pulau Jawa sejak 1970-an) serta membantu penerapan skema ekonometrik yang akan mengucurkan dana jutaan dolar. 

Perkins dalam bukunya ini memaparkan berbagai cara terselubung--ala kapitalis global yang rakus dan amoral--untuk mengendalikan sejumlah peristiwa dramatis dalam sejarah, seperti kejatuhan Shah Iran, kematian tragis Presiden Panama, Omar Torrijos, dan invasi militer Amerika ke Panama dan Irak. Buku Confessions of an Economic Hit Man--yang diperingatkan banyak kalangan agar tidak ditulis--mengemukakan pemahaman tentang sistem yang memacu globalisasi dan memicu kemiskinan jutaan umat manusia di seluruh dunia.

Para agen economic hit man adalah segelintir profesional berpenghasilan sangat tinggi yang mengecoh pemerintahan suatu negeri triliunan dolar. Mereka menyalurkan dana dari Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), dan organisasi bantuan lainnya menjadi dana korporasi raksasa. 

Sarana mereka meliputi antara lain rekayasa laporan keuangan yang menyesatkan, praktek penyuapan, pemerasan, agen penggermoan (wanita dan seks), serta pembunuhan terencana yang keji. Para EHM seperti Perkins memainkan peranan yang telah menentukan dimensi baru dan mengerikan selama era globalisasi.

Para agen EHM ini bekerja berdasarkan pesan sponsor dari negara adikuasa yang berniat mewujudkan sebuah imperium global untuk melakukan penyesatan skema ekonometrik agar hasil forecast-nya memenuhi syarat untuk memperoleh dana bantuan yang lebih menyerupai utang yang menjerat dan mencekik negara penerima. Dana pinjaman yang begitu besar jumlahnya itu dikucurkan oleh negara kreditor--melalui agen EHM--dengan tujuan utama sebagai alat untuk mencengkeram negara bersangkutan. 
Akhirnya, negara penerima utang itu menjadi target yang lunak ketika negara kreditor membutuhkan apa yang dikehendakinya, seperti pangkalan militer, suara di PBB, serta akses yang mudah untuk mengeksplorasi sumber daya alam (minyak bumi, gas, dan emas) yang dimiliki negara penerima utang.

Dana bantuan disalurkan melalui Chas. T. Main, Inc. (MAIN), sebuah perusahaan konsultan multinasional yang bertanggung jawab atas kajian untuk menentukan apakah Bank Dunia seyogianya memberikan pinjaman kepada suatu negara. Dana korporasi global ini juga disalurkan melalui perusahaan Amerika lainnya dalam proyek perekayasaan dan konstruksi. Perkins menyebut di antaranya perusahaan multinasional Bechtel, Halliburton, dan Stone & Webster.

Namun, tidak semua pemerintahan tunduk pada model corporatocracy yang dibangun para agen EHM ini. Menurut catatan Perkins, terdapat dua penguasa (elite politik) yang secara berani dan tegas menolak "perselingkuhan" bisnis dan politik dengan EHM ini. Mereka adalah Presiden Panama (Omar Torrijos) dan Presiden Ekuador (Jaime Roldos). Layaknya dalam dunia mafioso, para pembangkang seperti ini, menurut kepentingan corporatocracy, harus dieksekusi mati secara tragis pula. Keduanya tewas dalam suatu kecelakaan pesawat terbang (yang diledakkan dengan bom) dan tabrakan yang mengerikan.

Perkins secara jujur meyakini bahwa kematian mereka bukan kecelakaan biasa karenahuman error, tapi ada tangan terselubung dan sangat rahasia yang dimainkan CIA. Mereka "dihabisi" karena menentang keinginan dan fraternity dengan para pemimpincorporatocracy, pemerintah negara adikuasa, dan perbankan yang berkehendak membentuk imperium global.

Melalui buku Confessions of an Economic Hit Man ini, Perkins juga menyajikan sedikit kesannya ketika ditugaskan di Indonesia, sebuah negeri di Asia Tenggara yang disebutnya "di Timur yang eksotik" (halaman 22-56). Selama berada di Indonesia, ia telah berinteraksi dengan masyarakat marginal di Jakarta dan Bandung yang hidup di kawasan kumuh berumah kardus. 

Penugasannya di Indonesia (pada 1970-an) itu untuk membuat rencana strategi energi (to create a master energy plan) di Pulau Jawa. Sebagai ekonom EHM, Perkins ditugasi untuk menghasilkan model ekonometrik bagi Indonesia. Di situlah saatnya para agen EHM memanipulasi data statistik untuk menghasilkan sebuah asumsi ekonomis demi memperkuat kesimpulan yang direkayasa oleh para analis bagi kepentingan corporatocracy. 

Sebuah pertanyaan cerdas dan menggelitik muncul berkenaan dengan terbitnya bukuConfessions of an Economic Hit Man ini: benarkah IMF pada masa krisis moneter di Indonesia (1997/1998) berperan ganda sebagai agen EHM bagi kepentingancorporatocracy?

Banyak pengamat dan analis ekonomi bersikap skeptis pada peran IMF dalam memulihkan perekonomian Indonesia. Di antara mereka itu bahkan menuduh IMF dan Bank Dunia sebagai dua lembaga finansial dunia yang justru membawa Indonesia memasuki jurang krisis yang lebih dalam lagi serta menciptakan ketergantungan yang sangat mengkhawatirkan.
semoga bermanfaat bagi kita semua. 
SUMBER; SYAFRUDDIN AZHAR, PENGAMAT PERBUKUAN DAN EDITOR PADA PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, JAKARTA (dimuat di Koran Tempo Minggu, 30 Oktober) dan www.wikipedia.org